LAPORAN OBSERVASI HARI PERTAMA, RABU 15 APRIL 2026
OBSERVASI SESI INDOKAKAO TRAINING SEAT HARI PERTAMA
LAPORAN OBSERVASI HARI PERTAMA, RABU 15 APRIL 2026
Kegiatan Pelatihan dan Diskusi Budidaya Kakao Berbasis Agroforestri
1. Identitas Kegiatan
- Tempat : Pendopo Lemah Ireng
- Hari/Tanggal : Rabu, 15 April 2026
- Waktu : 08.30 – 16.37 WIB
- Topik Kegiatan : Budidaya Kakao, Agroforestri, Pemuliaan Genetik, dan Pengendalian Hama Penyakit Kakao
- Narasumber :
- Cristian Silas, CIRAD
- Phillipe Vaast, CIRAD
A. Pendahuluan
Kegiatan untuk hari ini Rabu Tanggal 15 April 2026 ini dilaksanakan sebagai forum pembelajaran dan pertukaran pengetahuan mengenai budidaya kakao, pengembangan sistem agroforestri, pemuliaan genetik tanaman kakao, serta pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kakao. Kegiatan melibatkan peserta dari berbagai daerah yang memiliki pengalaman langsung dalam pengelolaan kebun kakao.
Observasi dilakukan terhadap proses diskusi, penyampaian materi, tanggapan peserta, serta berbagai praktik lokal yang berkembang di masyarakat terkait budidaya kakao.
B. Hasil Observasi
1. Observasi Sesi I
Materi: Genetic and Breeding of the Cocoa Tree
Narasumber: Pak Silas
Dalam sesi ini, narasumber menjelaskan mengenai genetika dan pemuliaan tanaman kakao. Diskusi menunjukkan bahwa peserta memiliki perhatian besar terhadap teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lokal masing-masing daerah.
Beberapa peserta menanyakan mengenai penerapan agroforestri pada lahan kakao, teknik pemanenan, serta pengembangan varietas lokal kakao. Salah satu peserta menyampaikan bahwa buah kakao yang terlambat dipanen dapat mengeras sehingga sulit dibuka. Selain itu, terdapat pertanyaan mengenai pengaruh teknik pemanenan dengan cara memelintir buah terhadap produktivitas tanaman berikutnya. Narasumber menjelaskan bahwa pemanenan sebaiknya dilakukan dengan pemotongan agar tidak merusak titik tumbuh bunga pada batang tanaman.
Peserta lain menekankan pentingnya pelatihan budidaya kakao yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing, termasuk penanganan hama dan penyakit. Hal ini dinilai penting karena kondisi tanah, iklim, dan lingkungan di setiap daerah berbeda-beda. Narasumber menanggapi bahwa sebagian besar masalah hama dan penyakit kakao relatif serupa di berbagai daerah, namun jenis tanaman keras dalam sistem agroforestri dapat berbeda sesuai kondisi lokal.
Diskusi juga membahas keberadaan kakao lokal yang telah lama tumbuh di masyarakat. Narasumber menjelaskan bahwa kakao lokal kemungkinan merupakan hasil persilangan berbagai varietas kakao yang telah berkembang sejak lama dan memerlukan pengujian genetik untuk memastikan karakteristiknya.
2. Observasi Materi Agroforestri dan Ecosystem Services
Narasumber: Phillipe Vaast
Materi kedua membahas hubungan antara agroforestri, jasa lingkungan (ecosystem services), dan perubahan iklim pada budidaya kakao.
Dalam diskusi, peserta mengemukakan pengalaman mengenai lahan kakao yang terbakar dan upaya penanaman kembali pada kondisi tersebut. Narasumber menyampaikan bahwa kondisi tersebut akan dibahas lebih lanjut melalui simulasi.
Observasi menunjukkan bahwa peserta memahami pentingnya tanaman peneduh dalam sistem agroforestri kakao. Tanaman peneduh dinilai memiliki berbagai fungsi, antara lain:
- meningkatkan kualitas kakao;
- menjaga siklus nutrisi;
- memperpanjang umur tanaman kakao;
- mendukung ketahanan pangan;
- menyimpan karbon;
- membantu adaptasi perubahan iklim;
- menjaga keanekaragaman hayati;
- mendukung konservasi air dan tanah.
Namun demikian, narasumber juga menjelaskan bahwa tanaman peneduh dapat menjadi media penyebaran hama dan penyakit tertentu apabila tidak dipilih dengan tepat. Contohnya, terdapat tanaman peneduh yang dapat menarik hama atau menjadi inang virus yang menyerang kakao. Pengetahuan lokal masyarakat mengenai jenis tanaman peneduh yang aman maupun berbahaya dianggap sangat penting dalam pengembangan sistem agroforestri kakao.
Selain itu, peserta memberikan contoh praktik lokal penggunaan berbagai jenis tanaman peneduh seperti alpukat, pinang, pisang, dan gamal yang memiliki fungsi berbeda dalam menjaga kelembapan dan kesuburan lahan. Informasi seperti ini akan digunakan untuk pengembangan “shade tree advise tool” di Indonesia.
C. Observasi Sesi II
Materi: Pest and Disease on Cocoa Tree
Narasumber: Pak Silas
Pada sesi ini, pembahasan difokuskan pada hama dan penyakit tanaman kakao serta upaya pengendaliannya.
Peserta menyampaikan berbagai pengalaman lapangan mengenai pengendalian penyakit busuk buah dan hama penggerek buah kakao. Salah satu peserta menjelaskan bahwa buah kakao yang busuk tidak boleh dibuang di sekitar pohon karena dapat menjadi sumber penyakit, sehingga sebaiknya dibuang di lokasi yang jauh dan panas.
Diskusi juga membahas penggunaan insektisida kimia seperti Alika dan Nordoc untuk mengendalikan hama penggerek. Narasumber tidak merekomendasikan penggunaan bahan kimia keras karena dapat memengaruhi kualitas biji kakao. Selain itu, terdapat informasi bahwa beberapa bahan kimia telah dilarang dalam standar sertifikasi tertentu seperti Rainforest Alliance.
Beberapa peserta menyampaikan praktik lokal pengendalian hama menggunakan bahan alami, seperti kulit jengkol dan daun pepaya yang diaplikasikan pada tanaman kakao untuk mengendalikan jamur dan hama penggerek.
Narasumber juga memperkenalkan konsep penggunaan biopestisida sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, peserta menyampaikan bahwa penggunaan pestisida kimia masih lebih banyak dipilih karena mudah diperoleh dan praktis digunakan di tingkat petani.
D. Observasi Kegiatan Simulasi dan Pengumpulan Data
Pada sesi akhir, dilakukan simulasi pemilihan tanaman peneduh terbaik untuk enam wilayah berbeda. Setiap kelompok diminta menyusun prioritas jenis tanaman peneduh sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Selain itu, peserta diberikan tugas untuk melakukan pengumpulan data dari petani di daerah masing-masing dengan memperhatikan keseimbangan gender. Data tersebut akan digunakan sebagai basis pengembangan aplikasi dan database sistem agroforestri kakao di Indonesia.
Observasi menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diarahkan pada pengembangan basis data lapangan yang melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung.
E. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi, kegiatan pelatihan dan diskusi ini memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai:
- pentingnya sistem agroforestri dalam budidaya kakao;
- pengaruh pemilihan tanaman peneduh terhadap produktivitas dan kesehatan tanaman kakao;
- pentingnya penanganan hama dan penyakit secara ramah lingkungan;
- perlunya penguatan pengetahuan lokal dan partisipasi petani dalam pengembangan sistem budidaya kakao berkelanjutan.
Kegiatan juga menunjukkan bahwa pengalaman lokal petani merupakan sumber informasi penting dalam pengembangan teknologi dan sistem pendukung pengelolaan kakao di Indonesia.
Top of Form
LAPORAN OBSERVASI HARI KEDUA, KAMIS 16 APRIL 2026
Kegiatan Pelatihan Pengolahan Pascapanen, Pembiayaan Mikro, dan Penguatan Kelembagaan Kakao
1. Identitas Kegiatan
- Tempat : Ruang Sidang
- Hari/Tanggal : Kamis, 16 April 2026
- Waktu : 09.00 – 12.00 WIB
- Topik Kegiatan : Fermentasi dan Pengeringan Kakao, Pembiayaan Mikro, Kelembagaan Petani Kakao, dan Pendanaan Hijau Agroforestri Kakao
- Narasumber :
- Pak Hendy
- PT Permodalan Nasional Madani (PNM) – Eko Ariawan
- Fahmi W Kifli, Instiper
- BRMP DIY – Kementerian Pertanian
- Pak Budi Wardhana, PSLB Instiper
A. Pendahuluan
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pelatihan dan diskusi mengenai pengembangan usaha kakao berbasis agroforestri. Fokus pembahasan mencakup pengolahan pascapanen kakao, akses pembiayaan mikro, penguatan kelembagaan petani, sertifikasi benih, serta pengelolaan pendanaan hijau dalam usaha agroforestri kakao.
Observasi dilakukan terhadap materi yang disampaikan, dinamika diskusi peserta, serta berbagai pengalaman lapangan yang dibagikan oleh peserta dari berbagai daerah.
B. Hasil Observasi
1. Observasi Sesi I
Materi: Fermentasi dan Pengeringan Kakao
Narasumber: Pak Hendy
Pada sesi ini, narasumber menjelaskan pentingnya proses fermentasi dan pengeringan dalam menentukan kualitas biji kakao. Observasi menunjukkan bahwa peserta memiliki perhatian terhadap teknik pengolahan pascapanen yang dapat meningkatkan mutu dan cita rasa kakao.
Dalam diskusi dijelaskan bahwa proses pemeraman buah bertujuan untuk mengurangi kandungan pulpa sehingga proses fermentasi menjadi lebih mudah dilakukan. Pemeraman disarankan tidak melebihi lima hari agar kualitas buah tetap terjaga.
Narasumber juga menjelaskan bahwa fermentasi menggunakan “puff” dengan penambahan mikroba dinilai sangat baik untuk meningkatkan kualitas fermentasi. Selain itu, peserta menanyakan mengenai penelitian terkait komposisi perlakuan fermentasi yang dapat menghasilkan cita rasa tertentu pada kakao. Diskusi berlangsung secara interaktif meskipun waktu yang tersedia terbatas.
2. Observasi Materi Pembiayaan Mikro
Narasumber: PT Permodalan Nasional Madani (PNM) – Eko Ariawan
Materi ini membahas skema pembiayaan mikro dan peluang akses pendanaan bagi usaha masyarakat, termasuk sektor kakao.
Peserta menunjukkan ketertarikan terhadap skema pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usaha kakao dan koperasi petani. Narasumber menjelaskan bahwa pembiayaan ultra mikro berada pada kisaran Rp2 juta hingga Rp10 juta, sedangkan pembiayaan mikro berkisar Rp20 juta hingga Rp200 juta, baik untuk individu maupun koperasi. Pembiayaan dalam jumlah besar hingga Rp2 miliar memerlukan agunan berupa barang tidak bergerak.
Diskusi juga membahas kemungkinan akses hibah untuk pengembangan sarana dan prasarana koperasi. Narasumber menjelaskan bahwa program hibah dimungkinkan apabila di desa tersebut telah terdapat klien PNM, disertai dengan pendampingan dan pelatihan bagi masyarakat.
Peserta lain mempertanyakan sejauh mana PNM dapat mendukung pengembangan bisnis kakao melalui skema pembiayaan khusus. Pertanyaan tersebut dicatat oleh narasumber untuk menjadi bahan tindak lanjut.
Selain itu, terdapat pembahasan mengenai perbedaan sistem pembiayaan PNM dengan bank konvensional maupun bank syariah. Narasumber menjelaskan bahwa secara umum sistem pembiayaan memiliki kesamaan, dan perbedaan utamanya terletak pada istilah atau mekanisme tertentu.
C. Observasi Sesi II
1. Observasi Materi Sertifikasi Benih
Narasumber: BRNP DIY – Kementerian Pertanian
Pada sesi ini dibahas mengenai pentingnya sertifikasi benih dalam budidaya kakao. Narasumber menegaskan bahwa seluruh benih yang digunakan harus tersertifikasi sesuai standar yang berlaku guna menjamin kualitas dan legalitas benih.
2. Observasi Materi Pendanaan Hijau dan Pengelolaan Keuangan Agroforestri Kakao
Narasumber: Pak Budi
Materi ini membahas tantangan dan peluang pendanaan dalam pengembangan usaha agroforestri kakao, termasuk pengakuan terhadap manfaat ekonomi yang bersifat tidak langsung (intangible).
Diskusi menunjukkan bahwa peserta memahami bahwa agroforestri memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat. Salah satu manfaat yang dirasakan adalah peningkatan nilai aset lahan karena masyarakat tidak perlu membeli tanah tambahan. Namun demikian, akses terhadap pembiayaan masih menjadi kendala, terutama karena adanya persyaratan tertentu dari lembaga pendanaan.
Peserta lain menjelaskan bahwa sistem penilaian kredit umumnya masih menggunakan pendekatan finansial seperti Net Present Value (NPV), sementara nilai jasa lingkungan dari sektor kehutanan belum banyak diperhitungkan dalam penilaian pembiayaan.
Observasi juga menunjukkan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi petani. Salah satu peserta berbagi pengalaman mendampingi petani milenial secara intensif, mulai dari pengadaan bantuan, pemeliharaan usaha, hingga pelaporan keuangan. Pendampingan tersebut dinilai berhasil meningkatkan pendapatan petani. Peserta menilai bahwa bantuan yang diberikan tanpa pendampingan lanjutan sering kali tidak memberikan hasil optimal.
Diskusi juga menyoroti karakteristik usaha kehutanan yang membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, masyarakat lebih banyak mengembangkan hasil hutan bukan kayu (HHBK) sebagai sumber pendapatan jangka pendek, seperti aren. Permasalahan utama yang dihadapi adalah biaya pemeliharaan alat produksi yang sering kali lebih besar dibanding peningkatan pendapatan yang diperoleh.
Narasumber menekankan pentingnya pencatatan peningkatan pendapatan setelah pemberian bantuan alat produksi sebagai dasar evaluasi keberhasilan program bantuan. Selain itu, disampaikan bahwa bantuan berbasis proyek sering kali kurang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Dalam diskusi lain, peserta mengangkat persoalan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan. Salah satu peserta menilai bahwa ketergantungan terhadap bantuan dapat menghambat perkembangan usaha masyarakat secara mandiri.
Peserta juga membagikan pengalaman mengenai kelompok tani yang telah berhasil mengembangkan produk kopi melalui bantuan alat pengolahan. Meskipun pemasaran digital menunjukkan permintaan yang tinggi, kelompok tani mengalami kesulitan akses pembiayaan karena masalah kredibilitas pengurus kelompok. Narasumber menyarankan pergantian penanggung jawab atau penggunaan jaminan dari instansi terkait sebagai solusi alternatif, termasuk memanfaatkan pembiayaan bank syariah.
D. Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi, kegiatan ini memberikan beberapa temuan penting, yaitu:
- kualitas fermentasi dan pengeringan sangat menentukan mutu kakao;
- akses pembiayaan masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan usaha kakao dan agroforestri;
- pendampingan berkelanjutan lebih penting dibanding bantuan yang bersifat sesaat;
- sektor agroforestri memiliki manfaat ekonomi tidak langsung yang belum sepenuhnya diakomodasi dalam sistem pembiayaan formal;
- penguatan kelembagaan petani dan tata kelola kelompok menjadi faktor penting dalam keberhasilan akses pendanaan dan pengembangan usaha.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan usaha kakao berbasis agroforestri membutuhkan integrasi antara aspek teknis budidaya, pengolahan pascapanen, kelembagaan petani, serta dukungan pembiayaan yang sesuai dengan karakteristik usaha kehutanan dan pertanian berkelanjutan.
Top of Form
Bottom of Form
