Blog Details

LAPORAN PELAKSANAAN AGROFORESTRI KAKAO CERDAS UNTUK KEHIDUPAN BERKELANJUTAN Didukung oleh Kedutaaan Besar Preancis untuk Indonesia dan Asia Tenggara

LAPORAN PELAKSANAAN

AGROFORESTRI KAKAO CERDAS UNTUK KEHIDUPAN BERKELANJUTAN

Didukung oleh Kedutaaan Besar Preancis untuk Indonesia dan Asia Tenggara

 

Dilaksanakan Bersama oleh CIRAD and PSLB INSTIPER

DI SEAT INSTIPER UNGARAN DAN KEBUN AGROFORESTRI KAKAO DI SEKITAR YOGYAKARTA 

 

 

DAFTAR ISI 

 

KATA PENGANTAR 

PROFIL PUSAT SAINS LANSKAP BERKELANJUTAN (PSLB)

DAFTAR ISI 

  1. PENDAHULUAN 
  2. Latar Belakang 
  3. Tujuan 
  4. Sasaran Peserta 

II.      RUANG LINGKUP MATERI 

  1. Lingkup Kegiatan Pelatihan 
  2. Metodologi Pelatihan 
  3. Materi Pelatihan 

III.    HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN 

  1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
  2. Peserta Pelatihan 
  3. Monitoring dan Evaluasi 

IV.     LAPORAN PENGGUNAAN DANA 

  1. Rencana Anggaran Biaya 
  2. Realisasi Penggunaan Biaya  

V.      KESIMPULAN 

VI.     REKAP KEGIATAN

LAMPIRAN – LAMPIRAN 

  1. PENDAHULUAN 

 

  1. Latar Belakang 

Definisi ketahanan pangan nasional sering kali terbatas pada pemenuhan komoditas pangan pokok, sehingga mengabaikan peran strategis tanaman perkebunan bernilai komersial (cash crop) seperti kakao (Theobroma Cacao). Sebagai komoditas yang didominasi oleh petani kecil (smallholders) di Indonesia, kakao menjadi motor penggerak ekonomi utama yang menentukan daya beli dan stabilitas ekonomi rumah tangga di pedesaan. Ketika sektor hulu kakao mengalami gangguan, dampaknya akan langsung memukul ketahanan dan resiliensi pangan para petani akibat hilangnya sumber pendapatan utama. Oleh karena itu, pendekatan yang komprehensif tentunya mampu mengaitkan pengelolaan tata guna lahan, stabilitas pendapatan, serta ketahanan multidimensi menjadi sangat krusial dalam melihat keberlanjutan komoditas ini.

Namun, saat ini para petani kecil dihadapkan pada lingkaran setan tantangan sistemik yang mengancam produktivitas dan mata pencaharian mereka. Fluktuasi harga global yang tidak menentu, masifnya tekanan hama dan penyakit tanaman, serta penurunan kesuburan tanah akibat pola budidaya monokultur konvensional menjadi beban berat di tingkat tapak. Guna memutus rantai persoalan tersebut, transisi menuju sistem agroforestri berbasis kakao menawarkan solusi adaptif yang solutif. Melalui integrasi tanaman kakao dengan pohon penaung dan tanaman sela, sistem wanatani ini mampu menciptakan mikroklimat yang melindungi tanaman dari cuaca ekstrem, meningkatkan keanekaragaman hayati sebagai pengendali hama alami, sekaligus mendiversifikasi sumber penghidupan petani dari hasil non-kakao.

Meskipun sistem agroforestri menjanjikan keberlanjutan ekologis dan ekonomis, tingkat adopsi di kalangan petani kecil di lapangan nyata-nyata masih sangat terbatas. Hambatan utama terletak pada tingginya kompleksitas manajemen sistem agroforestri serta minimnya dukungan pendampingan yang memadai dan berkesinambungan. Selama ini, intervensi yang ada cenderung bersifat pelatihan satu kali selesai (one-off training), tanpa adanya tindak lanjut jangka panjang. Akibatnya, para fasilitator lokal sering kali belum memiliki kapasitas dan keterampilan praktis yang mumpuni untuk memberikan bimbingan teknis yang berkelanjutan dan berorientasi pada penguatan penghidupan (livelihood) petani.

Menjembatani kesenjangan tersebut, kegi hadir sebagai inisiatif strategis yang tidak hanya menjawab kebutuhan teknis di lapangan, tetapi juga mengemban misi diplomatik yang kuat. Proyek ini terinspirasi dan selaras dengan prioritas bilateral yang disepakati antara Pemerintah Prancis dan Pemerintah Indonesia dalam pertemuan tingkat tinggi di Istana Élysée pada 24 Juli 2024. Sebagai implementasi nyata dari komitmen tersebut, pelaksanaan pelatihan ini menjadi komponen intervensi yang sangat penting untuk memperkuat kapasitas para fasilitator. Melalui peningkatan kompetensi fasilitator dalam memberikan pendampingan yang praktis dan berkelanjutan, program INDOKAKAO ini berkomitmen dalam mendorong adanya transformasi nyata menuju budidaya kakao yang tangguh, lestari, dan mampu menyejahterakan petani kecil.

  1. Tujuan 

Berlandaskan pada urgensi pemulihan sektor hulu kakao dan kebutuhan mendesak akan penguatan sistem pendampingan di tingkat tapak, program pelatihan ini dirancang secara terukur untuk mencapai target-target strategis. Rumusan tujuan ini menjadi kompas dalam pelaksanaan intervensi, yang secara garis besar dipetakan ke dalam tujuan umum dan serangkaian tujuan khusus sebagai berikut:

  1. Tujuan Umum

Secara makro, program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para fasilitator dalam memberikan metode coaching serta mentoring yang efektif kepada petani kecil. Melalui standardisasi kompetensi ini, para fasilitator diharapkan mampu memandu petani secara inklusif dalam mengadopsi dan menerapkan sistem agroforestri kakao yang bercirikan tiga pilar utama: sederhana untuk dipraktikkan, tangguh terhadap perubahan iklim (resilient), serta layak dan menguntungkan secara ekonomi (economically viable).

  1. Tujuan Khusus 

Untuk memastikan pencapaian tujuan umum tersebut secara operasional, program ini dipecah ke dalam beberapa sasaran instruksional dan teknis yang spesifik, meliputi:

  1. Penguatan Pemahaman Konseptual: Memperkuat kedalaman pemahaman fasilitator mengenai pilar-pilar penerapan sistem agroforestri kakao yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan.
  2. Peningkatan Keterampilan Teknis Budidaya: Meningkatkan kemahiran fasilitator dalam mentransfer teknik budidaya agroforestri yang tepat guna serta strategi pengendalian hama dan penyakit terpadu berbasis ekosistem.
  3. Standardisasi Kualitas Pasca-Panen: Meningkatkan pemahaman dan keahlian teknis fasilitator dalam mengawal proses pasca-panen demi menghasilkan biji kakao berkualitas tinggi yang memenuhi standar pasar premium.
  4. Penguatan Literasi Keuangan Usahatani: Meningkatkan kapasitas fasilitator dalam memberikan coaching dan mentoring terkait manajemen ekonomi serta pengelolaan keuangan usahatani berbasis agroforestri kakao.
  5. Perumusan Implementasi Taktis: Mengembangkan rencana aksi (action plan) yang praktis, realistis, dan siap dieksekusi oleh para fasilitator untuk mengawal pelaksanaan transisi agroforestri di wilayah dampingan masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. RUANG LINGKUP 
    1. Lingkup Kegiatan Pelatihan 

 

         Guna merealisasikan tujuan strategis yang telah dicanangkan, kurikulum pelatihan ini dirancang secara komprehensif dengan mengintegrasikan aspek teoritis, adopsi teknologi, implementasi teknis di lapangan, hingga penguatan kelembagaan ekonomi petani. Struktur materi pembelajaran yang diberikan kepada para fasilitator dikelompokkan ke dalam beberapa pilar utama sebagai berikut:

  1. Fondasi Teoritis dan Transformasi Teknologi 
  2. Smart Cacao Agroforestry 

         Pembekalan aspek fundamental mengenai perancangan lanskap pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim, pemilihan pohon penaung yang bernilai ekonomi, dan pengelolaan jasa ekosistem.

  1. Pengenalan Teknologi Aplikasi Agroforestri

         Transformasi digital melalui pemanfaatan perangkat atau aplikasi berbasis teknologi guna mendukung pemetaan lahan, monitoring kesehatan tanaman, maupun perencanaan pola tanam wanatani yang presisi.

  1. Manajemen Budidaya dan Perlindungan Tanaman 
  2. Praktik Pengelolaan Budidaya Kakao 

         Pendalaman teknis agronomi yang baik (Good Agricultural Practices/GAP), mulai dari manajemen pemangkasan, pemeliharaan struktur rimbun tanaman, hingga konservasi kesuburan tanah.

  1. Pengelolaan Hama dan Penyakit Secara Efektif

Penerapan strategi Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang ramah lingkungan untuk memitigasi serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) utama kakao tanpa merusak keseimbangan ekosistem kebun.

  1. Pascapanen, Finansial dan Kelembagaan Petani 
  2. Praktik Pascapanen yang Sesuai Bagi Petani 

         Standardisasi penanganan pascapanen (Good Manufacturing Practices/GMP), termasuk teknik fermentasi yang tepat, pencucian, dan pengeringan untuk memastikan biji kakao yang dihasilkan memenuhi kriteria pasar premium (Fine Flavor Cocoa).

  1. Manajemen Pembiayaan Mikro 

         Penguatan literasi keuangan usahatani, pencatatan arus kas, serta pengenalan instrumen pembiayaan skala mikro untuk menjamin keberlanjutan modal kerja operasional agroforestry.

  1. Pengembangan Organisasi Petani yang Efektif 
    1. Metodologi Pelatihan 

         Strategi penguatan kelembagaan lokal (kelompok tani atau koperasi) guna meningkatkan posisi tawar, efisiensi rantai pasok, dan kapasitas kolektif petani dalam mengelola bisnis kakao secara berkelanjutan.

Dalam memastikan efektivitas transfer pengetahuan dan ketermpilan sesuai dengan yang diharapkan, seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang menggunakan pendekatan Partisipatif Berbasis Pengalaman (Experiental and Participatory Learning). Tentunya pendekatan ini diterapkan melalui sistem pembelajaran sistematis dan berkesinambungan, yang mentransformasikan pemahaman konseptual di ruang kelas menjadi tindakan nyata di ranah tapak. Secara operasional, metode pelaksanaan pelatihan ini dibagi kedalam 4 (empat) tahapan yang saling berkaitan:

 

Gambar 1. Model Pendekatan Partisipatif Berbasis Pengalaman

 

  1. Presentasi Interaktif

            Rangkaian pelatihan diawali dengan metode presentasi interaktif guna menyamakan persepsi dan membangun fondasi teoretis para peserta terkait prinsip Smart Cocoa Agroforestry. Berbeda dengan ceramah konvensional satu arah, metode ini mengedepankan komunikasi dua arah yang didukung oleh media visual serta sesi tanya-jawab reflektif. Pola ini menempatkan fasilitator dan peserta sebagai mitra diskusi, sehingga pemahaman awal mengenai regulasi global dan kebijakan serta esensi ketahanan pangan dapat diinternalisasi secara cepat dan dinamis.

 

 

  1. Diskusi Kelompok

         Setelah fondasi teori terbentuk, peserta diarahkan ke dalam wadah group diskusi untuk memicu keterlibatan aktif seluruh peserta. Melalui metode ini, peserta didorong untuk saling berbagi pengalaman lapangan, memetakan tantangan spesifik daerah dampingan, serta mengeksplorasi potensi kelembagaan ekonomi lokal. Diskusi kelompok ini menjadi instrumen penting untuk memecahkan kebuntuan komunikasi, membangun kerja sama tim, dan merumuskan ide-ide kreatif secara kolektif sebelum diturunkan ke draf rencana aksi (action plan).

  1. Studi Kasus 

            Pendalaman kapasitas melalui pemecahan masalah (problem-solving capacity), yang mana peserta kemudian diuji melalui metode studi kasus. Peserta diberikan sebuah pada skenario riil atau simulasi kompleksitas hambatan usahatani kakao, seperti kegagalan tata kelola keuangan mikro kelompok, ledakan hama akibat perubahan iklim, atau rendahnya mutu fermentasi pascapanen di suatu wilayah. Metode ini melatih ketajaman analisis kritis para fasilitator dalam mengurai masalah multidimensi, sekaligus merancang rekomendasi solusi teknis yang sederhana, tangguh, dan layak secara ekonomi.

  1. Praktik Lapangan 
    1. Materi Pelatihan 

Puncak dari seluruh rangkaian metodologi ini adalah kunjungan dan praktik lapangan yang mengadopsi prinsip dasar Farmer Field School. Peserta diterjunkan langsung ke kebun demonstrasi (demplot) untuk belajar dan mempraktikkan secara nyata seluruh materi yang telah dipelajari. Aktivitas lapangan ini mencakup pembahahasan jarak tanam pohon kakao dan pohon penaung, identifikasi organisme pengganggu tanaman secara langsung, praktik penanganan pascapanen yang higienis, hingga praktik fermentasi. Pengalaman langsung (concrete experience) di lapangan ini memastikan terjadinya internalisasi kompetensi secara utuh, sehingga para fasilitator memiliki kesiapan dan kepercayaan diri penuh saat melakukan pengawalan berkelanjutan bagi petani kecil.

 

 

 

         Guna membekali para fasilitator dengan kompetensi yang utuh dan multidimensi, kurikulum. Pelatihan ini dirancang melalui alur yang bergerak dari pemahaman makro-strategis, pemecahan masalah teknis budidaya, hingga tata kelola finansial dan kelembagaan hijau. Rangkaian materi ini disusun secara sekuensial agar peserta mampu mengaitkan aspek ekologis hulu dengan keberlanjutan ekonomi hilir. 

  1. Kegiatan di Kelas yang terdiri dari Teori, Teknologi dan Kebijakan Stategis
  2. Orientasi Program yang dimana berkaitan dengan rangkaian pembelajaran diawali dengan Pengenalan Inisiatif IndoKAKAO. Sesi ini memberikan garis besar mengenai visi, misi, serta komitmen bilateral yang melandasi pergerakan program dalam mentransformasi sektor hulu kakao di Indonesia. 
  3. Resiliensi Terhadap Peruabahan Iklim yang dimana peserta kemudian dihadapkan pada materi Kakao dan Skenario Perubahan Iklim di Indonesia untuk memetakan kerentanan geografis perkebunan rakyat.
  4. Penerapan Pilihan Smart Landskap, hal ini guna menjawab tantangan iklim tersebut, dihadirkan konsep Smart Agroforestri pada Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan. Implementasi kegiatan ini didukung dengan pengenalan dan pelatihan penggunaan Shade Tree Advice Tool
  5. Manajemen Agronomi dan Perlindungan Tanaman, pada ranah budiday, peserta dibekali materi budidaya kakao yang menitikberatkan pada Good Agricultural Pratice (GAP). Kompetensi ini tentunya didampingkan dengan materi pengenalan hama dan penyakit kakao yang berguna bagi peserta untuk mengidentifikasi dan memitigasi serangan organisme penganggu tanaman (OPT). 
  6. Sinergi Nilai Tambah Hilir, yang pada fase ini materi difokuskan pada proses fermentasi kakao yang tepat. Narasumber dan fasilitator membekali peserta dengan standar intervensi pengolahan biji guna mendongkrak kualitas fisik dan cita rasa (fine flavor) agar menembus pasar premium global.
  7. Sinergi Kelembagaan dan Multi – Pihak, dimana hal ini berkaitan dengan keberlanjutan tata kelola di tingkat tapak yang memerlukan dukungan struktural. Maha berdasarkan hal tersebut materi kelembagaan agroforestry kakako diadakan untuk memperkuat kelompok tani, kesatuan pengelola hutan (KPH) untuk nantinya dapat saling bersinergi dalam pengembangan kakao berkelanjutan. 
  8. Pilar keuangan dan investasi hijau, materi ini diberikan sebagai penutup, yang dimana peserta dibekali dengan materi manajemen finansial melalui materi microfinance. Materi ini difokuskan pada pembiayaan skala mikro petani, serta konsep pendaan hijau (Green Financing).
  9. Aplikasi Praktis dan Kunjungan Lapangan 

Sebagai jembatan antara teori dan realitas empiris, materi aplikasi dilakukan melalui field trip di dua lokasi percontohan strategis yaitu Mangunan yang berada di Kabupaten Bantul dan Wonokerto yang berada di Kabupaten Sleman. Kunjungan ini di rancang untuk memberikan gambaran nyata kepada para peserta mengenai bagaimana konsep agroforestri diimplementasikan dalam skala lanskap yang kompleks dan heterogeny.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Gambar 2. Konsep Agroforestri Kakao 

 

Di Mangunan para peserta melihat langsung integrasi tata guna lahan yang menerapkan sistem agroforestri, dimana dalam satu lanskap perkebunan karet disandingkan secara harmonis dengan perkebunan kakao, kelapa, kopi, sengon dan beberapa tanaman MPTS. Sedangkan di Wonokerto, peserta diajakan melihat penerapan awal konsep agroforestri dimana mengabungkan tanaman kakao dengan tanaman buah – buahan. Akan tetapi yang menjadi temuan yakni waktu tanam yang berbarengan menyebabkan tanaman yang seharusnya menajdi penaung cendrung sama tinggi dengan tanaman kakao.

 

  1. HASIL PELAKSANAAN KEGIATAN

 

  1. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan

Berikut ini adalah jadwal pelaksanaan kegiatan pelatihan yang berjalan selama 3 (tiga) hari di SEAT KP 2 Bawen Ungaran. 

Tabel. 1 Rundown Kegiatan Pelatihan Smart Cocoa Agroforestry

 for Sustainable Livelihoods

HARI, TANGGAL WAKTU
(WIB) 
KEGIATAN PIC LOKASI 
Hari Ke - 1
Selasa, 14 April 202614.30Berkumpul di INSTIPERFahmi W. Kifli/ Israr ArdiansyahLobby Auditorium INSTIPER 
 15.00 - 17.00Perjalanan ke SEAT KP 2 Bawen UngaranFahmi W. Kifli/ Israr ArdiansyahBUS & HIACE
 17.00 - 18.30Pembagian Kamar dan Check InVillania SariSEAT KP2 Bawen Ungaran 
 18.30 - 19.00 Makan Malam Tatik Suhartati / Villania Sari Café Lemah Ireng
 19.00 - 19.30 Pembukaan INSTIPER IndoKAKAO Training Fahmi W. Kifli/ Israr ArdiansyahR. Sidang - Durian 
 19.30 - 19.45Pengantar dari CIRADJean - Marc RodaR. Sidang - Durian 
 19.45 - 20.00 Pembukaan INSTIPER IndoKAKAO Training Rektor INSTIPER / Dekan Fakultas KehutananR. Sidang - Durian 
 20.00 - 21.15Overview INSTIPER IndoKAKAO Training Agus SetyarsoR. Sidang - Durian 
 20.15 - 22.00Ice Breaking dan Perkenalan Peserta Israr ArdiansyahR. Sidang - Durian 

 

 

 

 

HARI, TANGGAL 

WAKTU

(WIB) 

KEGIATANPICLOKASI
Hari Ke - 2    
Rabu, 15 April 202605.30 - 06.30Olah Raga PagiIntruktur Senam

Lapangan SEAT KP 2 

Ungaran Bawen

 06.30 - 07.45Sarapan pagi Tatik Suhartati / Villania Sari Café Lemah Ireng
 08.15 - 08.30 Pengenalan program IndoKAKAOChristian CilasHall Lemah Ireng 
 08.30 - 09.15Hama dan Penyakit Kakao Christian CilasHall Lemah Ireng 
 09.30 - 10.30 SMART Agroforestri pada Pengelolaan Landskap BerkelanjutanAgus SetyarsoHall Lemah Ireng 
 10.30 - 12.00Budidaya Kakao CIRAD: Olivier Sconigo Hall Lemah Ireng 
 12.00 - 13.00ISHOMA Café Lemah Ireng
 13.00 - 14.00 Definisi Jasa Ekosistem & Agroforestri CIRAD: Philippe VaastR. Sidang - Durian 
 14.00 - 15.00 Kakao dan Skenario Perubahan Iklim di Indonesia CIRAD: Philippe VaastR. Sidang - Durian 
 15.00 - 15.30 Coffee Break  Café Lemah Ireng
 15.30 - 17.30 Shade Tree Advice ToolCIRAD: Philippe VaastR. Sidang - Durian 
 17.30 - 19.00 ISHOMA  Café Lemah Ireng
 19.00 - 22.00Forum Diskusi dan Koordinasi KPH Untuk Kerjasama Agroforestri Agus SetyarsoR. Sidang - Durian 
 22.00 - 05.30 Istirahat Malam  Kamar Masing - Masing 

 

 

 

 

 

 

HARI, TANGGAL 

WAKTU

(WIB) 

KEGIATAN PIC LOKASI 
Hari Ke - 3    
Kamis, 16 April 202606.00 - 07.00Jalan Pagi Mengelilingi Fasilitas SEAT KP2 Bawen Ungaran Fahmi W. Kifli/ Israr ArdiansyahSEAT KP2 Bawen Ungaran 
 07.30 - 08.30 Makan Pagi Tatik Suhartati / Villania Sari Café Lemah Ireng
 09.00 - 10.00Pasca Panen: Fermentasi Kakao ICCRI: Hendy FirmantoR. Sidang - Durian 
 10.00 - 11.00Microfinance PNM: Ecko Ariawan R. Sidang - Durian 
 11.00 - 12.00Kelembagaan Agroforestry Kakao Fahmi W. Kifli/ Dimas D. Puruhito R. Sidang - Durian 
 12.00 - 13.00ISHOMA Café Lemah Ireng
 13.00 - 15.30 Pendanaan Hijau dan Manajemen Pendanaan Hijau Budi Wardhana R. Sidang - Durian 
 15.30 - 16.00Persiapan kembali ke INSTIPER Fahmi W. Kifli/ Israr ArdiansyahCafé Lemah Ireng
 16.00 - 18.00Perjalanan ke INSTIPER  BUS & HIACE
 18.00 - 18.15Pembagian Kamar dan Check In di TWHTatik Suhartati / Villania Sari Hotel TWH 
 18.15 - 06.00 Istirahat Malam  Hotel TWH 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Peserta Pelatihan 

Tabel 2. Daftar Peserta Pelatihan Smart Cocoa Agroforestry

 for Sustainable Livelihoods

NONAMAKAPASITASL/PPROFIL
1Hery Susetyo S.Pt Particapant  LKoperasi petani kakao genah kopen
2ADIL, S.HutParticapant  LUPTD KPH KARAMA - DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DAERAH PROV. SULAWESI BARAT
3Refky Abdillah, S.HutParticapant  LUPTD KPH KARAMA - DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DAERAH PROV. SULAWESI BARAT
4Muamar Leonardo, S.TP, M.Sc.Particapant  LKelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Muda
5Muhammad Anzar, S.HUTParticapant  LDLHK PROV SUL-BAR / UPTD KPHL MAPILLI
6Romelan,S.SyParticapant  LKOPERASI Tri Kuncoro Mukti 
7Hardi SusantoParticapant  LKelompok Tani Sumber Rahayu
8Setiaji Heri Saputro, S.Hut, M.SiParticapant  LInstiper
9Ulang Tahun, A. MdParticapant  LDinas Kehutanan Prov. Kalimantan Tengah, KPHP Murung Raya
10Rizki KurniawanParticapant  LInstiper
11Eko Srihartanto, S.P., M.Sc.

Participant/

Speakers

LBRMP D.I.Yogyakarta, Kementan
12Wahyu widayatiParticapant  PKoperasi agrimuda kab.malang
13Musrifa Aliyah Masduki, S.Hut. Particapant  PUPTD KPH Mapilli 
14Ayu Hardiyanti,S.HutParticapant  PUPTD KPH Mapilli 
15Dina Mardhatilah STP., MSi., Ph.DParticapant  PInstiper
16Lisma Safitri, S.TP, M.Si, PhDParticapant  PInstiper 
17Heni RahmawatiParticapant  PKoperasi Agrimuda Kabupaten Malang
18ASMINIRWANTI, S. HutParticapant  PKPH Walanae DLHK Sul-Sel
19A. MUSTABSIRAH, S. HutParticapant  PUPTD KPH JENEBERANG DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
20Musdalifah Mus, S.Hut Particapant  PUPTD KPH TANGKA, DINAS LHK PROVINSI SULAWESI SELATAN 
21Erni Azis, S.HutParticapant  PUPTD KPH Ajatappareng DLHK Provinsi Sulawesi Selatan 
22Imelda, S.Hut., M.HutParticapant  PUPTD KPH LAMASI
23Siman SuwajiParticapant  LInstiper
24Hendy FirmantoParticipant/ SpeakersLICCRI
25Eko AriawanSpeakersLPNM
26M. ShofaParticapant  LPNM
27Lukmansyah Particapant  LNGO
28Syafni SyukmanaParticapant  LInterpreter
29Dr. Christian CilasSpeakersLCIRAD
30Dr. Philippe VaastSpeakersLCIRAD
31Dr. Jean - Marc RodaSpeakersLCIRAD
32Dr. Issiakou Houssoukpevi Particapant  LCIRAD

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3. Proporsi Jumlah Peserta Berdasarkan Jenis Kelamin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Peran Peserta Dalam Kegiatan Pelatihan 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 5. Pengelompokkan Peserta Berdasarkan Asal Instansi

                                                                                         

NONAMAKet. L/PPROFILKEHADIRAN (Hari Ke-)
1234
1Hery Susetyo S.Pt ParticipantLKoperasi petani kakao genah kopen
2ADIL, S.HutParticipantLUPTD KPH KARAMA - DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DAERAH PROV. SULAWESI BARAT
3Refky Abdillah, S.HutParticipantLUPTD KPH KARAMA - DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DAERAH PROV. SULAWESI BARAT
4Muamar Leonardo, S.TP, M.Sc.ParticipantLKelompok Tani Hutan (KTH) Tunas Muda
5MUHAMMAD ANZAR, S.HUTParticipantLDLHK PROV SUL-BAR / UPTD KPHL MAPILLI
6Romelan,S.SyParticipantLKOPERASI Tri Kuncoro Mukti  
7HARDI SUSANTOParticipantLKelompok Tani Sumber Rahayu
8Setiaji Heri Saputro, S.Hut, M.SiParticipantLInstiper
9ULANG TAHUN, A. MdParticipantLDinas Kehutanan Prov. Kalimantan Tengah, KPHP Murung Raya
10Rizki KurniawanParticipantLInstiper
11Eko Srihartanto, S.P., M.Sc.Participant/SpeakersLBRMP D.I.Yogyakarta, Kementan
12Wahyu widayatiParticipantPKoperasi agrimuda kab.malang
13Musrifa Aliyah Masduki, S.Hut. ParticipantPUPTD KPH Mapilli 
14Ayu Hardiyanti,S.HutParticipantPUPTD KPH Mapilli 
15Dina Mardhatilah STP., MSi., Ph.DParticipantPInstiper
16Lisma Safitri, S.TP, M.Si, PhDParticipantPInstiper 
17Heni RahmawatiParticipantPKoperasi Agrimuda Kabupaten Malang
18ASMINIRWANTI, S. HutParticipantPKPH Walanae DLHK Sul-Sel
19A. MUSTABSIRAH, S. HutParticipantPUPTD KPH JENEBERANG DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN PROVINSI SULAWESI SELATAN
20Musdalifah Mus,  S.Hut ParticipantPUPTD KPH TANGKA, DINAS LHK PROVINSI SULAWESI SELATAN 
21Erni Azis, S.HutParticipantPUPTD KPH Ajatappareng DLHK Provinsi Sulawesi Selatan 
NONAMAKet.L/PPROFILKEHADIRAN (Hari Ke-)
1234
22Imelda, S.Hut., M.HutParticipantPUPTD KPH LAMASI
23Siman SuwajiParticipantLInstiper
24Hendy FirmantoParticipant/SpeakersLICCRI 
25Eko AriawanSpeakersLPNM  
26M. ShofaParticipantLPNM  
27Lukmansyah ParticipantLNGO
28Syafni SyukmanaParticipantLInterpreter
29Dr. Christian CilasSpeakersLCIRAD
30Dr. Philippe VaastSpeakersLCIRAD
31Dr. Jean - Marc RodaSpeakersLCIRAD   
32Dr. Issiakou Houssoukpevi ParticipantLCIRAD

 

 

  1. Monitoring dan Evaluasi 
  2. Rabu, 15 April 2026

Topik Kegiatan           : Budidaya Kakao, Agroforestri, Pemuliaan Genetic dan Pengendalian 

                                      Hama Penyakit 

Tempat                       : Pendopo Lemah Ireng SEAT KP 2 Bawen Ungaran 

Waktu                         : 08.30 WIB  - 16.37 WIB

Narasumber               :           

  1. Christian Cilas – CIRAD Expert 
  2. Philippe Vasst – CIRAD Expert 
  3. Pendahuluan 

         Kegiatan ini dilaksanakan sebagai forum pembelajaran dan pertukaran pengetahuan mengenai budidaya kakao, pengembangan sistem agroforestri, pemuliaan genetik tanaman kakao, serta pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kakao. Kegiatan melibatkan peserta dari berbagai daerah yang memiliki pengalaman langsung dalam pengelolaan kebun kakao. Observasi dilakukan terhadap proses diskusi, penyampaian materi, tanggapan peserta, serta berbagai praktik lokal yang berkembang di masyarakat terkait budidaya kakao.

  1. Hasil Observasi Sesi I

Materi            : Genetic and Breeding of The Cocoa Trees

Narasumber : Christian Cilas – CIRAD Expert 

         Dalam sesi ini, narasumber menjelaskan mengenai genetika dan pemuliaan tanaman kakao. Diskusi menunjukkan bahwa peserta memiliki perhatian besar terhadap teknik budidaya yang sesuai dengan kondisi lokal masing-masing daerah. Beberapa peserta menanyakan mengenai penerapan agroforestri pada lahan kakao, teknik pemanenan, serta pengembangan varietas lokal kakao. Salah satu peserta menyampaikan bahwa buah kakao yang terlambat dipanen dapat mengeras sehingga sulit dibuka. Selain itu, terdapat pertanyaan mengenai pengaruh teknik pemanenan dengan cara memelintir buah terhadap produktivitas tanaman berikutnya. Narasumber menjelaskan bahwa pemanenan sebaiknya dilakukan dengan pemotongan agar tidak merusak titik tumbuh bunga pada batang tanaman. 

         Peserta lain menekankan pentingnya pelatihan budidaya kakao yang disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing, termasuk penanganan hama dan penyakit. Hal ini dinilai penting karena kondisi tanah, iklim, dan lingkungan di setiap daerah berbeda-beda. Narasumber menanggapi bahwa sebagian besar masalah hama dan penyakit kakao relatif serupa di berbagai daerah, namun jenis tanaman keras dalam sistem agroforestri dapat berbeda sesuai kondisi lokal. Diskusi juga membahas keberadaan kakao lokal yang telah lama tumbuh di masyarakat. Narasumber menjelaskan bahwa kakao lokal kemungkinan merupakan hasil persilangan berbagai varietas kakao yang telah berkembang sejak lama dan memerlukan pengujian genetik untuk memastikan karakteristiknya.

Materi            : Agroforestry and Ecosystem Services

Narasumber : Philippe Vasst – CIRAD Expert 

         Materi kedua membahas hubungan antara agroforestri, jasa lingkungan (ecosystem services), dan perubahan iklim pada budidaya kakao. Dalam diskusi, peserta mengemukakan pengalaman mengenai lahan kakao yang terbakar dan upaya penanaman kembali pada kondisi tersebut. Narasumber menyampaikan bahwa kondisi tersebut akan dibahas lebih lanjut melalui simulasi. Observasi menunjukkan bahwa peserta memahami pentingnya tanaman peneduh dalam sistem agroforestri kakao. Tanaman peneduh dinilai memiliki berbagai fungsi, antara lain:

  1. Meningkatkan kualitas kakao;
  2. Menjaga siklus nutrisi;
  3. Memperpanjang umur tanaman kakao;
  4. Mendukung ketahanan pangan;
  5. Menyimpan karbon;
  6. Membantu adaptasi perubahan iklim; 
  7. Menjaga keragaman hayati;
  8. Mendukung konservasi air dan tanah.

         Namun demikian, narasumber juga menjelaskan bahwa tanaman peneduh dapat menjadi media penyebaran hama dan penyakit tertentu apabila tidak dipilih dengan tepat. Contohnya, terdapat tanaman peneduh yang dapat menarik hama atau menjadi inang virus yang menyerang kakao. Pengetahuan lokal masyarakat mengenai jenis tanaman peneduh yang aman maupun berbahaya dianggap sangat penting dalam pengembangan sistem agroforestri kakao. Selain itu, peserta memberikan contoh praktik lokal penggunaan berbagai jenis tanaman peneduh seperti alpukat, pinang, pisang, dan gamal yang memiliki fungsi berbeda dalam menjaga kelembapan dan kesuburan lahan. Informasi seperti ini akan digunakan untuk pengembangan “Shade Tree Advise Tool” di Indonesia. 

  1. Hasil Observasi Sesi II

Materi            : Pest and Diseases on Cocoa Tree

Narasumber : Christian Cilas – CIRAD Expert 

         Pada sesi ini, pembahasan difokuskan pada hama dan penyakit tanaman kakao serta upaya pengendaliannya. Peserta menyampaikan berbagai pengalaman lapangan mengenai pengendalian penyakit busuk buah dan hama penggerek buah kakao. Salah satu peserta menjelaskan bahwa buah kakao yang busuk tidak boleh dibuang di sekitar pohon karena dapat menjadi sumber penyakit, sehingga sebaiknya dibuang di lokasi yang jauh dan panas. 

Diskusi juga membahas penggunaan insektisida kimia seperti Alika dan Nordoc untuk mengendalikan hama penggerek. Narasumber tidak merekomendasikan penggunaan bahan kimia keras karena dapat memengaruhi kualitas biji kakao. Selain itu, terdapat informasi bahwa beberapa bahan kimia telah dilarang dalam standar sertifikasi tertentu seperti Rainforest Alliance

         Beberapa peserta menyampaikan praktik lokal pengendalian hama menggunakan bahan alami, seperti kulit jengkol dan daun pepaya yang diaplikasikan pada tanaman kakao untuk pengendalian serngan jamur dan hama penggerek buah kakao. Narasumber juga memperkenalkan konsep penggunaan biopestisida sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Namun, peserta menyampaikan bahwa penggunaan pestisida kimia masih lebih banyak dipilih karena mudah diperoleh dan praktis digunakan di tingkat petani

  1. Observasi Kegiatan Simulasi dan Pengumpulan Data 

         Pada sesi akhir, dilakukan simulasi pemilihan tanaman peneduh terbaik untuk enam wilayah berbeda. Setiap kelompok diminta menyusun prioritas jenis tanaman peneduh sesuai karakteristik wilayah masing-masing.  Selain itu, peserta diberikan tugas untuk melakukan pengumpulan data dari petani di daerah masing-masing dengan memperhatikan keseimbangan gender. Data tersebut akan digunakan sebagai basis pengembangan aplikasi dan database sistem agroforestri kakao di Indonesia. Observasi menunjukkan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga diarahkan pada pengembangan basis data lapangan yang melibatkan partisipasi masyarakat secara langsung

  1. Kesimpulan Observasi 

Berdasarkan hasil observasi, kegiatan pelatihan dan diskusi ini memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai:

  1. Pentingnya sistem agroforestri dalam budidaya kakao; 
  2. Pengaruh pemilihan tanaman peneduh terhadap produktivitas dan kesehatan tanaman kakao; 
  3. Pentingnya penanganan hama dan penyakit secara ramah lingkungan; 
  4. Perlunya penguatan pengetahuan lokal dan partisipasi petani dalam pengembangan sistem budidaya kakao berkelanjutan. 

Kegiatan juga menunjukkan bahwa pengalaman lokal petani merupakan sumber informasi penting dalam pengembangan teknologi dan sistem pendukung pengelolaan kakao di Indonesia.         

  1. Kamis, 16 April 2026

Topik Kegiatan           : Kegiatan Pelatihan Pengolahan Pascapanen, Pembiayaan Mikro dan

                                      Penguatan Kelembagaan Kakao 

Tempat                       : Ruang Sidang Durian -  SEAT KP 2 Bawen Ungaran 

Waktu                         : 09.00 WIB – 12.00 WIB

Narasumber               :           

  1. Hendy Firmanto – ICCRI Expert
  2. Echo Ariawan – PT Permodalan Nasional Madani (PNM)
  3. Fahmi W. Kifli – PSLB INSTIPER
  4. Eko Srihartanto – BRMP DIY 
  5. Budi Wardhana – PSLB INSTIPER 
  6. Pendahuluan 

         Kegiatan ini terintegrasi ke dalam rangkaian pelatihan dan forum diskusi yang berfokus pada pengembangan lanskap bisnis kakao berbasis wanatani. Ruang lingkup pembahasan dalam sesi ini diarahkan secara spesifik pada tata kelola pascaproduksi, penetrasi pembiayaan mikro, konsolidasi kelembagaan kelompok tani, standardisasi sertifikasi benih, serta mekanisme pengelolaan investasi dan pendanaan hijau. Guna mengevaluasi efektivitas sesi, proses observasi dilakukan secara komprehensif terhadap substansi materi yang dipaparkan, dinamika interaksi antarpeserta, serta komparasi empiris dari berbagai pengalaman lapangan yang dialirkan oleh perwakilan peserta dari masing-masing daerah

  1. Hasil Observasi Sesi I 

Materi                : Fermentasi dan Pengeringan Kakao 

Narasumber     : Hendy Firmanto 

         Penyampaian materi pada sesi pascapanen ini berfokus pada urgensi proses fermentasi dan pengeringan dalam standardisasi kualitas biji kakao. Antusiasme peserta teramati sangat besar, khususnya terkait adopsi teknik pascapanen inovatif yang mampu mendongkrak mutu serta nilai organoleptik (cita rasa) kakao. Salah satu poin teknis yang didiskusikan secara mendalam adalah teknik pemeraman buah sebagai upaya mengurangi kadar pulpa demi mempermudah kelancaran proses fermentasi, dengan batasan waktu maksimal lima hari untuk mencegah penurunan kualitas komoditas. Selain itu, narasumber mengelaborasi keunggulan fermentasi berbasis metode "puff" dengan suplementasi mikroba untuk memacu mutu hasil akhir. Respons interaktif dari peserta juga terlihat dari munculnya pertanyaan kritis mengenai studi literatur komparatif terkait formulasi fermentasi yang dapat memicu klaster cita rasa tertentu, menjadikan sesi tanya-jawab berlangsung produktif di tengah keterbatasan waktu yang ada.

Materi                : Pembiayaan Mikro 

Narasumber     : Echo Ariawan 

         Materi ini membahas skema pembiayaan mikro dan peluang akses pendanaan bagi usaha masyarakat, termasuk sektor kakao. Peserta menunjukkan ketertarikan terhadap skema pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan usaha kakao dan koperasi petani. Narasumber menjelaskan bahwa pembiayaan ultra mikro berada pada kisaran Rp2 juta hingga Rp10 juta, sedangkan pembiayaan mikro berkisar Rp20 juta hingga Rp200 juta, baik untuk individu maupun koperasi. Pembiayaan dalam jumlah besar hingga Rp2 miliar memerlukan agunan berupa barang tidak bergerak. 

         Diskusi juga membahas kemungkinan akses hibah untuk pengembangan sarana dan prasarana koperasi. Narasumber menjelaskan bahwa program hibah dimungkinkan apabila di desa tersebut telah terdapat klien PNM, disertai dengan pendampingan dan pelatihan bagi masyarakat. Peserta lain diruangan diskusi mempertanyakan sejauh mana PNM dapat mendukung pengembangan bisnis kakao melalui skema pembiayaan khusus. Pertanyaan tersebut dicatat oleh narasumber untuk menjadi bahan tindak lanjut. Selain itu, terdapat pembahasan mengenai perbedaan sistem pembiayaan PNM dengan bank konvensional maupun bank syariah. Narasumber menjelaskan bahwa secara umum sistem pembiayaan memiliki kesamaan, dan perbedaan utamanya terletak pada istilah atau mekanisme tertentu.  

  1. Hasil Observasi Sesi II 

Materi                : Sertifikasi Benih Kakao  

Narasumber     : Eko Srihartanto

         Sesi pembelajaran difokuskan pada pembahasan mengenai pentingnya sertifikasi benih dalam budidaya kakao. Peserta diajak untuk memahami bahwa pemilihan dan penggunaan bahan tanam yang unggul merupakan langkah awal yang menentukan keberhasilan usaha tani jangka panjang. Dalam pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa seluruh benih yang digunakan harus tersertifikasi sesuai standar yang berlaku guna menjamin kualitas dan legalitas benih tersebut. Melalui standardisasi ini, para petani kecil dapat terhindar dari risiko kerugian akibat benih ilegal atau bermutu rendah yang rentan terhadap serangan penyakit, sekaligus memastikan bahwa kakao yang ditanam memiliki produktivitas yang optimal dan sesuai dengan kualifikasi pasar industri cokelat global

Materi                : Pendanaan Hijau dan Pengelolaan Keuangan Agroforestri Kakao  

Narasumber     : Eko Srihartanto

         Materi ini membahas tantangan dan peluang pendanaan dalam pengembangan usaha agroforestri kakao, termasuk pengakuan terhadap manfaat ekonomi yang bersifat tidak langsung (intangible). Diskusi menunjukkan bahwa peserta memahami bahwa agroforestri memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat. Salah satu manfaat yang dirasakan adalah peningkatan nilai aset lahan karena masyarakat tidak perlu membeli tanah tambahan. Namun demikian, akses terhadap pembiayaan masih menjadi kendala, terutama karena adanya persyaratan tertentu dari lembaga pendanaan. 

         Peserta lain menjelaskan bahwa sistem penilaian kredit umumnya masih menggunakan pendekatan finansial seperti Net Present Value (NPV), sementara nilai jasa lingkungan dari sektor kehutanan belum banyak diperhitungkan dalam penilaian pembiayaan. Observasi juga menunjukkan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi petani. Salah satu peserta berbagi pengalaman mendampingi petani milenial secara intensif, mulai dari pengadaan bantuan, pemeliharaan usaha, hingga pelaporan keuangan. Pendampingan tersebut dinilai berhasil meningkatkan pendapatan petani. Peserta menilai bahwa bantuan yang diberikan tanpa pendampingan lanjutan sering kali tidak memberikan hasil optimal. 

         Diskusi juga menyoroti karakteristik usaha kehutanan yang membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan keuntungan. Oleh karena itu, masyarakat lebih banyak mengembangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai sumber pendapatan jangka pendek, seperti aren. Permasalahan utama yang dihadapi adalah biaya pemeliharaan alat produksi yang sering kali lebih besar dibanding peningkatan pendapatan yang diperoleh. 

Narasumber menekankan pentingnya pencatatan peningkatan pendapatan setelah pemberian bantuan alat produksi sebagai dasar evaluasi keberhasilan program bantuan. Selain itu, disampaikan bahwa bantuan berbasis proyek sering kali kurang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan. 

         Dalam diskusi lain, peserta mengangkat persoalan ketergantungan masyarakat terhadap bantuan. Salah satu peserta menilai bahwa ketergantungan terhadap bantuan dapat menghambat perkembangan usaha masyarakat secara mandiri. Peserta juga membagikan pengalaman mengenai kelompok tani yang telah berhasil mengembangkan produk kopi melalui bantuan alat pengolahan. Meskipun pemasaran digital menunjukkan permintaan yang tinggi, kelompok tani mengalami kesulitan akses pembiayaan karena masalah kredibilitas pengurus kelompok. Narasumber menyarankan pergantian penanggung jawab atau penggunaan jaminan dari instansi terkait sebagai solusi alternatif, termasuk memanfaatkan pembiayaan bank syariah.

  1. Jumat, 17 April 2026

Materi                : Kunjungan Agroforesti Kakao di Mangunan    

Narasumber     : Christian Cilas & Philippe Vasst

         Kunjungan pertama dilakukan di Kecamatan Manguna yang berada di Kabupaten Bantul untuk mengamati konsep agroforestri yang telah diaplikasikan oleh masyarakat dan petani lokal setempat. Dalam kegiatan ini seluruh peserta didampingi oleh seluruh fasilitator dan para nasarasumber yakni CIRAD, ICCRI dan BRMP. Lokasi pertama, peserta diajak mengunjungi kebun miliki Pak Surat, yang mana kebun ini memadukan tanaman karet sabagai naungan pohon kakao dan juga tanaman temu – temuan sebagai tanaman sisip. Pada prakteknya, Dr. Cilas dan Dr. Philippe memberikan banyak sekali masukan terkait budidaya dan penangan hama penyakit. Ditemukan beberapa jenis penyakit dan serangan hama yang menyerang tanaman kakao seperti, Penggerek Buah Kakao (PBK), Kepik Pengisap Buah Kakao, dan Penyakit Busuk Buah. 

         Selama proses penjelasan, peserta dan petani diberikan kesempatan untuk bertanya bagaimana mengatasi kondisi tersebut

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Kesimpulan 
  2. Rekap Kegiatanz